Kekerasan Kemanusian Memasung Pembangunan Negara
I. Masih
tergambar jelas diingatan masyarakat dunia, kekerasan hari ini terjadi
dimana-mana seperti demam revolusi di timur-tengah masyarakat melakukan
perlawanan terhadap pemerintah berkuasa dengan melakukan gencatan senjata,
krisis ekonomi afrika yang menyebabkan banyaknya masyarakat yang melakukan
perlawanan dengan menuntut kesejahtraan dan baru-baru ini di asia tenggara
tepatnya Negara Myanmar adanya pelanggaran HAM terhadap etnis/suku Rohingya,
ini berakibat dari kepentingan ekonomi dan politik pemerintah yang berselingkuh
dengan pihak china dan amerika, dengan seenaknya mengorbankan rakyatnya
sendiri. dari sederetan konflik komunal di dunia menjawab sudah bahwa
multikulturisme adalah metode paling seksi untuk mengobok-obok stabilitas
politik, hukum, ekonomi dan social budaya sebuah Negara.
Memuncaknya Gejolak politik
di saentero Negara-negara Timur-Tengah berawal dari perlawanan rakyat mesir
yang menyerukan perubahan system pemeririntahan di mesir, dengan memaksa mundur
persiden Husni mubarok, selnjutnya deman revolusi mulai di kumandangkan
disetiap Negara di timur tengah mulai dari surya, sudan, Libya dsb., yang
menewaskan ribuan warga sipil dan pejabat-pejabat tinggi Negara seperti
presiden muamar kadafhi yang merupakan presiden Libya di bunuh oleh pemberontak
yang memaksa kadafhi untuk mundur dari jabatannya sebagai presiden. Persoalan
kemanusian di timur-tengah semakin memanas akhir-akhir ini, apalagi dengan
tewasnya dubes amerika serikat untuk Libya J. Christoper Stevens beserta tiga
staf diplomatiknya di Benghazi Libya.
Selanjutnya perlakuan
ketidakadilan terhadap etnik rohingya di provinsi Rakhine Myanmar, kekersan
terhadap etnik rohingya menyebabkan: Tewasnya 1000 orang etnik rohingya
berdasarkan data NGO sedangkan pemerintah ada 78 orang etnik rohingya. Pengungsi, menurut NGO 90.000 orang
sedangkan pemerintah ada 64.000 orang Rumah yang rusak, menurut NGO 4000
rumah sedangkan pemerintah 4000 rumah sama dengan NGO. Kekerasan kemanusiaan di
timur-tengah dan Myanmar merupakan persoalan yang sangat serius dan perlu
disikapi oleh seluruh Negara di dunia, demi kenyamanan dan perdamaian warga
dunia. gejolak sosial di timur-tengah, Myanmar dan kesenjengan ekonomi di
afrika, ditakutkan dapat berimbas bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia.
II. Indonesia dikenal sejak dulu sebagai
salah satu Negara yang kaya akan suku, agama dan ras, jadi indonesia disebut
juga Negara taman sari nasionalisme di dunia. namun saat ini tidak bisa
dinafikkan bahwa kebanggaan itu tinggal cerita, paskah reformasi 1998 republik
ini mencatat beberapa konflik horizontal seperti kasus Ambon (1999-2002), Poso
(1998-2001), Sambas (1997, 1999-2001) dan Sampit (2001). dan yang baru-baru
terjadi di Sampang Madura
(2012), yang melibatkan dua aliran agama dalam komunitas muslim (Syiah dan
Sunni). beberapa kasus ini hanyalah sebagiannya saja, karena konflik agrarian
juga masih menjadi konflik yang produktif terjadi dimana adanya tindakan
sparatis oleh aparat keamanan terhadap masyarakat seperti di lambu bima dan
Mesuji lampung.
Konflik hari ini
memposisikan konflik horizontal dalam hal ini yang berbau SARA (suku, agama,
ras dan antar golongan) diposisikan teratas, mengapa? karena konflik terhadap
perbedaan merupakan konflik paling sensitive dan dalam waktu sekejap dapat
merubah konstalasi stabilitas kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga
jangan heran jika para taktikus politik berkepentingan terus menyulutkan
konflik horizontal sebagai alat untuk mencapai kepentingan tertentu.
Persoalan monumental adalah
terletak pada pengambil kebijakan yang lengah dan seakan membiarkan konflik
diantara masyarakat, akhir-akhir ini juga semakin meningkatnya tindakan
kriminalisasi seperti premanisme, narkoba, perkosaan, pembunuhan, pencurian
sulit dihindarkan, sehingga yang terjadi hari ini adalah adanya keresahan yang
dirasakan oleh masyarakat. pertarungan ideologi sudah menjadi hal yang lumrah
dilakukan baik dalam tingkatan nasional maupun daerah, sadisnya pelakunya
adalah tokoh-tokoh publik figure di masyarakat yang mengadudombakan masyarakat
biasa sebagai alat pemuas kepentingan politiknya.
Potensi kekerasan komunal
menurut data dari POLRI RI di indonesia sepanjang 2012-2014 adalah:
- Polda yang memiliki tingkat kerawanan
tinggi adalah Sumatra Utara, Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Metro Jaya, Jawa
Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Kalimantan Timur.
- Sedangkan untuk tingkat kerawanan
sedang adalah Polda Riau, Aceh, Jambi, Yogjakarta, Bali, Banten, Kalimantan
Barat, Sulawesi Utara dan Papua.
- untuk tingkat kerawanan rendah adalah
Polda Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah,
Maluku dan Maluku Utara.
konflik komunal yang
kedepannya akan terjadi dipengaruhi oleh Pemilukada di daerah-daerah hingga
pemilihan presiden tahun 2014, kesenjangan ekonomi seperti persoalan buruh,
konflik agraria, dengan konsensi lahan untuk perizinan pertambangan tanpa
melihat dampak ekologis dan tumpah tindihnya izin kepemilikan tanah.
Momentum Hari Perdamaian
Dunia (The World Of Day) tanggal 21 September 2012 untuk itu PP. PMKRI
memandang bahawa berbagai persoalan kekerasan yang menyebabkan pertumpahan
darah antara sesama manusia, yang secara langsung menggangu kenyamanan dan
ketentraman rakyat Indonesia khususnya dan dunia umumnya , PP. PMKRI menyerukan
bahwa: Pemerintah indonesia harus
bertanggungjawab terhadap berbagai kekerasan seperti; konflik SARA, konflik
Agraria, konflik pemilukada dan kesenjangan ekonomi yang terjadi di
Indonesia, jangan
membiarkan dikatomi-dikatomi oleh sekelompok oknum yang merengut nilai-nilai
Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI. Pemerintah Indonesia, PBB dan
Negara-negara di dunia untuk menjaga perdamaian dan perlindungan hak-hak
masyarakat di dunia, dengan menghentikan gencatan senjata yang dapat menggangu
ketertiban dunia.

Komentar
Posting Komentar