Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2013

Partisipaai Kaum Muda Dalam Menjawab Krisis Kepemimpinan Nasional

Partisipasi atau kontribusi kaum muda dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, berbangsa dan bertanah air, tidak dapat diragukan lagi. Hal ini dibuktikan dengan keterlibatan pemuda dalam memperjuangkan kemerdekaan Bangsa Indonesia, mengawal proses pembangunan dan demokrasi di Indonesia, serta terlibat dalam menentukan kepemimpinan nasional dengan turut serta    memberikan haknya dalam pemilihan umum. Pada tahun 1925 para pemuda yang terhimpun dalam perhimpunan Indonesia di negeri Belanda, telah melahirkan manifesto politik yang intinya menegaskan prinsip perjuangan; Persatuan (unity), Kesetaraan (equality) dan Kemerdekaan (liberty). Kongres    Pemuda II pada 28 0ktober 1928 menjadi momentum lanjutan dari artikulasi politik kaum muda yang luar biasa, dengan selogan yang terkenal yaitu “satu Nusa, satu Bangsa, satu Bahasa yakni bahasa Indonesia. Momentum ini melahirkan konsolidasi kekuatan politik pemuda, untuk sama-sama memberikan kontribusi nyata bagi bangsa da...

Kepemimpinan Kaum Muda Dalam Menjawab Krisis Kepemimpinan Nasional

“Kita sedang mengalami krisis kepemimpinan nasional” – sebuah frase yang kerap meluncur begitu saja dari mulut banyak orang dari berbagai kalangan, entah itu para akademisi, para politisi,    para ekonom, para pengamat, dan tentu tak ketinggalan para aktivisis muda mahasiswa yang memang bertendensi melihat sisi lemah seorang pemimpin ketimbang sisi positifnya. Pada posisi itu, PMKRI sepakat bahwa memang kita sedang mengalami krisis kepemimpinan nasional. Setidaknya ada beberapa indikator sebagai alat ukur penunjuk krisis kepemimpinan nasional saat ini.   Pertama,   tata kelola pemerintahan yang buruk. Hal itu terlihat dari korupsi yang menggurita pada setiap level pemerintahan dari tingkat pusat hingga daerah, baik eksekutif, legislatif, maupun yudikatif;   Kedua,   manajemen perekonomian nasional yang tidak berpihak pada bangsa. Kekayaan sumber daya alam Indonesia hanya dinikmati oleh korporasi asing. Bangsa Indonesia hanya menikmati sisanya dan t...