Pemilukada di Indonesia syarat Isu SARA


Keindonesiaan kita sedang diuji. Ujiannya seberapa kuat kita meredam dan tidak mudah dipengaruhi oleh isu-isu Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA). Dikarenakan SARA menjadi salah satu alat ampuh perusak keindonesiaan kita. Dan keampuhannya sangat manjur dalam black campain dalam momentum Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).

Pillada semakin rusak ketika Isu SARA dijadikan peluru politik untuk menembak jatuh elektabilitas seorang calon kepala daerah yang dicap minoritas, guna tidak mendapatkan dukungan dari rakyat, walaupun calon tersebut memiliki kapabilitas dan integritas yang dapat dipertanggungjawabkan.

Kondisi tersebut di atas  telah melahirkan konflik horizontal di tengah masyarakat. Kita pun sebagai sesama anak bangsa, terlibat secara aktif dalam memberikan hinaan dan cacian baik itu di lingkungan tempat tinggal maupun di sosial media, dengan merasionalisasi dogma-dogma agama dan adat istiadat sebagai sesuatu kebenaran yang absolut.

Sebenarnya ini sangat tidak mendidik. Kebebasan demokrasi telah disalahgunakan. Amanah demokrasi dirusak untuk kepentingan-kepentingan orang yang tidak waras. Ketidakwarasan itu diciptakan sendiri oleh orang-orang yang nafsu dan rakus akan kekuasaan, padahal mereka merupakan orang-orang terdidik.

Keintelektualan mereka telah dilacurkan demi memenangkan kandidat mereka dalam setiap PILKADA. Dan ikut terlibat mengorbankan masyarakat dalam kungkungan kemiskinan, serta aktif memecah belah rumah bersama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sudah waktunya elemen-elemen bangsa melawan perilaku-perilaku para penghianat kebangsaan kita. Agar bangsa ini yang telah diperjuangkan kemerdekaannya dengan darah dan air mata para pendiri bangsa, tidak tinggal kenangan.








Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengusaha Muda Dengan Es Bidadarinya Di Kota Jambi

Langkah-Langkah Dalam Pembuatan Gugatan

Leonardo DiCaprio Liburan Di Aceh Melihat Langsung Perilaku Orang Utan Sumatera